John A Fayyad, Lynn
Farah, Youmna Cassir, Mariana M Salamoun, Elie G Karam
Eur Child Adolescent
Psychiatry. 2010. 19:629-636
A. Permasalahan
Kebanyakan permasalahan
psikoterapi yang sangat terkait dengan anak, orang tua bahkan keduanya sudah
seringkali diuji secara empiris, dengan banyaknya indikasi positif pada akhir
penelitian terutama dalam pelatihan pengasuhan. ADHD adalah salah satu penyakit
yang prevalensinya tinggi di dunia, salah satunya di Arab. Dikarenakan
kurangnya kesadaran mengenai ADHD dan kelainan mental lainnya, kebanyakan
anak-anak dilabel sebagai malas, bodoh, pembuat masalah dan seringkali terkena
hukuman.
Walaupun
prevalensi penyakit ini sudah mendunia, tetap saja tidak ada satu bentuk
intervensi efektif yang digunakan yang berefek pada kurangnya kesadaran
masyarakat di tingkat pendidikan dan komunitas. Oleh karena itu, kita memiliki
banyak pekerjaan rumah bagi para anak dan keluarga yang membutuhkan penanganan
dan yang belum menerima akses yang cukup. Semenjak disadari bahwa program
pengasuhan orang tua telah mendemonstrasikan keefektifan dalam mengurangi
permasalahan perilaku anak, pemikiran diperlukan penyebaran informasi mengenai
satu bentuk intervensi komunitas di negara-negara berkembang.
Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk menyebarkan informasi mengenai intervensi berbasis
komunitas di negara berkembang (Lebanon) dan untuk mengevaluasi keefektifannya
dalam mengurangi permasalahan eksternal melalui pelatihan pekerja sosial dan
kesehatan untuk memberikan pelatihan mengenai pola asuh bagi ibu dengan
anak-anak yang bermasalah.
B. Metode
Manual
penanganan dikembangkan oleh Integrated Service Program Task Force yang pada
awalnya diterapkan pada setting klinis di mesir, Lebanon, Israel dan Brazil.
Pada penelitian ini digunakan 8 sesi pelatihan bagi orang tua (ibu) dan tidak
dikenakan sesi bagi anak, setiap sesi pada manual ditelaah dan diterjemahkan
dalam bahasa Arab Lebanon.
Prosedur
perekrutan dilakukan dengan menerima nominasi pekerja sosial dan kesehatan dari
petugas kementrian yang menegurusi pusat pelayanan kesehatan dan sosial.
Partisipan dalam program pelatihan ini harus bekerja aktif dalam organisasi dan
minimum memiliki berlatar belakang pendidikan pekerja sosial, perawat (dengan 5
tahun pengalaman kerja), sosiologi, psikologi atau pendidikan. Tim peneliti
menyelenggarakan pertemuan dengan supervisor dan petugas lokal masing-masing
pusat pelayanan. Pelatihan bagi pekerja sosial dan kesehatan berlangsung selama
4.5 hari sesi. Pelatihan terdiri atas mengenali dan memahami kelainan perilaku
anak berumur 6 dan 12 tahun, administrasi instrument dan memberikan intervensi
kepada ibu dari anak-anak tersebut. Sesi kelima berjalan disaat implementasi
program dan saat pelatihan dengan para ibu. Setiap pekerja menerima 8-10 paket
pembelajaran yang akan didistribusikan pada para ibu. Pekerja awal semula
berjumlah 29, tapi pada akhirnya hanya berjumlah 20 pekerja dari 17 pusat
pelayanan. Setiap pekerja sosial dan kesehatan mempromosikan program ini dan
semua ibu yang seringkali mengunjungi pusat pelayanan diberi tahu dan ditawari
untuk berpartisipasi. Pelatihan kemudian berlangsung dalam 8 sesi mingguan
selama 60-90 menit tiap sesi. Supervise dilakukan oleh IDRAAC melalui telepon
atau datang langsung.
Instrument
yang digunakan adalah The Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ) versi
orang tua, digunakan untuk mengidentifikasi anak dengan permasalahan perilaku
pada permulaan dan akhir studi. Ibu juga diminta untuk mengisi kuesioner
singkat tentang cara pola asuh dan kepuasaan mereka kepada program yang
dijalani. Target populasi penelitian adalah anak dengan permasalahan perilaku
anak dengan level ringan-sedang yang berumur 6-12 tahun di Beirut dan selatan
Lebanon. Ekslusi dilakukan pada anak dengan mental retardasi sedang-parah,
kemangkiran dari rumah, pernah ditahan/ditangkap, gangguan kecemasan/perasaan
parah, gejala psikotik dan anak yang sedang menjalani terapi farmakologis.
Ekslusi pada ibu dilakukan apabila ibu menderita retardasi mental dan menderita
psikotik. Total SDQ yang disebar adalah 320, tersaring 126 ibu yang termasuk
dalam kriteria dan 87 ibu yang akhirnya menyelesaikan pelatihan. Analisis
statistik menggunakan SPSS 13.
C. Hasil
Dari anak
umur 6-12 tahun yang terjaring dalam penelitian, sekitar 77.5% laki-laki dan
perempuan 22.5%. total terdapat 87 ibu berpartisipasi. Skor SDQ orang tua meningkat dari pre ke post,
yang mana rentang skor normal SDQ meningkat dari 16.2 ke 57.6% dan rentang skor
abnormal menurun dari 54.4 ke 19.7% dan terdapat perubahan signifikan dalam
semua skala SDQ terutama hiperaktivitas dan permasalahan perilaku.
Terdapat
pengurangan gejala negatif dalam kehidupan di rumah, hubungan dengan teman,
sekolah, aktivitas lowong dan permasalahan anak. Intervensi dalam pola asuh
juga menunjukkan peningkatan dalam pola asuh positif. Pada awalnya terdapat
40.2% ibu yang terbiasa memukul anaknya dan menggunakan hukuman, setelah
intervensi hanya 6.1% yang melakukannya. Awalnya 57.3% ibu berpikir bahwa
berteriak adalah strategi yang bagus untuk mengurangi perilaku bermasalah anak
dan setelah intervensi berkurang menjadi 9.8%.
Pada
kuesioner mengenai kepuasaan ibu, 74.4% mengaku bahwa program ini telah
memberikan keterampilan baru dalam pola asuh dan berpengaruh terhadap perilaku
anak. Sekitar sepertiga ibu mengaku bahwa suaminya ikut terlibat dalam
pelatihan pola asuh dan mereka mengaku bahwa anggota keluarga lain melihat
adanya perkembangan perilaku anak.
D. Diskusi
Pelatihan dilaksanakan oleh personel kesehatan
dan pekerja sosial yang tidak pernah memiliki pengalaman di bidang kesehatan
mental dan hanya melibatkan ibu. Hal ini berpengaruh pada berkurangnya
kebutuhan mereka untuk membawa anaknya ke pusat pelayanan. Hasil dari program
ini adalah ibu memiliki cara baru untuk berhadapan dengan anaknya dan berujung
pada minimnya siksaan fisik dan peningkatan signifikan dalam perilaku anak yang
dilihat berdasarkan rating perilaku.
Pelatihan
ini hanya melibatkan orang tua, karena apabila melibatkan anak maka harus
diperlukan keterampilan lebih dari pekerja sosial juga membutuhkan pekerja
sosial yang berlatar belakang kesehatan mental. Fakta bahwa hasil signifikan
telah dicapai membuat program ini lebih mudah direplikasi dan disebar di
negara-negara berkembang yang masih minim tenaga professional kesehatan.
Pelatihan dalam program ini efektif secara harga, menghasilkan dan hasil
pengukurannya kredibel. Informasi berdasarkan bukti nyata tentang program ini
telah tersedia, tetapi penyebaran informasinya yang masih minim.
Terdapat
beberapa keterbatasan dalam penelitian ini yaitu Pertama ini tidak melibatkan
kelompok control, yaitu kelompok ibu yang tidak menerima intervensi apapun,
sehingga kita tidak mengetahui apakah keberhasilan penelitian ini disebabkan
oleh penelitian ini atau apakah ada faktor diluar itu. Kedua, kepatuhan ibu
yang mengikuti pelatihan ini. Apabila kepatuhan ibu lebih besar, maka hasil
penelitian diharapkan akan lebih baik. Ketiga, hasil yang positif kemungkinan
dihasilkan karena adanya eksklusi kasus yang parah. Apabila kasus yang parah
dimasukan dalam penelitian, kemungkinan hasil penelitian akan lebih bervariasi
dan efektifitas penelitian akan lebih dapat terlihat pada populasi yang lebih
besar. Keempat, proses seleksi dan pelatihan yang dilakukan ditargetkan pada
ibu dan ayah, hal yang menarik adalah hanya ibu yang berminat untuk mengikuti
pelatihan. Apabila ibu dan ayah sama-sama mengikuti pelatihan, tentunya aka
nada efek yang lebih besar. Dalam penelitian selanjutnya, diharapkan usaha
untuk melibatkan ayah lebih besar. Kelima, hambatan ini adalah hambatan yang
paling mendasar: karena kebanyakan pekerja tidak memiliki pengalaman dalam
bidang epidemologis, maka banyak dari mereka yang menghilangkan kuesioner atau
bahkan tidak memberikan kuesioner pada saat pelatihan selesai.
Walaupun
terdapat berbagai keterbatasan, tetapi banyak orang tua yang telah merasakan
manfaat dari penelitian ini dan informasi mulut ke mulut telah menyebar dan
makin banyak orang yang tertarik dengan program ini. Bahkan anak pun berani
untuk meminta ibunya untuk dipertemukan dengan pekerja sosial dan kesehatan
untuk berterima kasih atas perubahan positif yang telah dibawa ke dalam
keluarganya. Ibu dan pekerja pun masih merasakan manfaat dari program setelah 2
tahun pelatihan berlangsung.
E. Kesimpulan
Penelitian ini cukup menarik, terutama apabila
direplikasikan di Indonesia yang banyak sekali remajanya yang memiliki permasalahan
perilaku. Meskipun begitu, beberapa hal dalam penelitian ini seperti hanya anak
yang memiliki permasalahan perilaku ringan-sedang yang menjadi subjek
penelitian, menurut saya sangat disayangkan.
Seharusnya anak dengan gangguan perilaku parah juga dimasukkan untuk
lebih melihat efektifitas dari studi ini, sehingga pada saat hasil penelitian
yang memiliki hasil yang positif ini keluar dan menyebar, masyarakat memiliki
ekspektasi yang wajar terhadap program ini. Para orang tua bila mendengar
tentang program ini akan langsung berharap bahwa anak mereka juga akan dapat
ditangani setelah mengikuti program ini, tanpa tahu bahwa apabila anak mereka
menderita gangguan kepribadian parah maka hasilnya bisa saja berbeda.
Hal kedua
yang disoroti adalah hanya orang tua yang diberi kuesioner untuk mendeteksi
perilaku anak. Apakah hasil ini bisa dipercaya? Karena kebanyakan orang tua
yang mengikuti pelatihan ini adalah orang tua dengan anak bermasalah sehingga
belum tentu mereka memiliki pemahaman jelas mengenai perilaku anaknya di luar
rumah.
Hal ketiga
adalah tidak adanya seleksi random pada pemilihan ibu. Ibu hanya dipilih
berdasarkan keminatan masing-masing ibu. sehingga belum tentu ibu yang
berpartisipasi adalah ibu-ibu yang merupakan representasi dari lingkungan pusat
pelayanan tersebut. oleh karena itu, generalisasi populasi dalam penelitian ini
pun harus dilakukan dengan lebih berhati-hati.
Hasil
positif dihasilkan dalam penelitian ini, tetapi tidak disebutkan data bahwa
peningkatan banyak terjadi pada golongan anak yang bermasalah ringan atau
sedang. Bisa jadi intervensi ini hanya efektif pada golongan bermasalah ringan,
sehingga pertimbangan untuk mereplikasi pada kelompok anak yang bermasalah
parah harus lebih dipikirkan.










