Alex Cohen, Julian
Eaton, Birgit Radtke, Christina George, Bro Victor Manuel, Mary De Silva,
Vikram Patel
Journal of Mental
Health Systems, 2011, Vol. 5 No 3
A. Permasalahan
Kesehatan
mental secara keseluruhan telah berkembang menjadi sebuah area penting dalam
dunia kesehatan. Hal ini ditandai dengan perkembangan tata cara intervensi
dalam kasus kesehatan mental, gangguan neurologi dan penggunaan obat-obatan
pada setting non-spesialisasi. Meskipun begitu, Negara-negara berpendapatan
rendah menghadapi berbagai tantangan dalam usahanya untuk meningkatkan dan
mengembangkan pelayanan kesehatan mental. Tantangan tersebut berupa minimnya perbandingan
bukti nyata mengenai bagaimana pelayanan kesehatan mental berfungsi di dalam
praktik kesehariannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan
dan mengkontraskan 3 model pelayanan kesehatan mental komunitas pada
Negara-negara berpendapatan rendah.
B. Metode
Studi ini
berlangsung di 3 negara berbeda yaitu di Service for People With Disabilities,
Abuja, Federal Capital Territory, Nigeria; Holy Face Rehabilitation Center for
Mental Health, Tabaco City, Albay Province, Philippines; Asia Psychosocial
Rehabilitation Program, Karakonam, Kerala, India. Metodologi yang digunakan
adalah metode kualitatif yang dilakukan melalui observasi, wawancara dengan staf
dan pengumpulan informasi mengenai program dengan kunjungan selama 5-10 hari di
masing-masing tempat. Aktivitas selama kunjungan adalah mendampingi staf selama
bekerja dan kunjungan rumah, observasi klinik komunitas, mengunjungi kelompok Self Help, mewawancarai staf dan cek
dokumen. Analisis data dilakukan dengan mengkonversikan narasi, transkrip
wawancara dan dokumen ke dalam teks yang kemudian akan dianalisis melalui topic
narasi dan indikator level program.
C. Hasil
Hasil
penelitian dibagi ke dalam beberapa domain, yaitu:
1. Sejarah dan konteks
3 program (di 3 negara) dimulai pada tahun 2004-2006. Program di Nigeria
dimulai karena mereka menyadari kebutuhan untuk pelayanan kesehatan mental
(psikosis dan epilepsi), program di Filipina berdiri berkat diskusi antara
pihak CBM dan NGO setempat untuk memberikan pelayanan kepada orang dengan
gangguan mental, program di India lahir untuk menangani krisis akibat Tsunami
pada Desember 2004. Program di Nigeria selain melayani kebutuhan pasien
kesehatan mental juga menjalani kegiatan mengenai ketidakmampuan fisik dan
intervensi psikososial. Terdapat 17 pekerja lapangan yang bertugas mencari dan
menangani kasus para klien serta 1 perawat psikiatri yang bertanggung jawab
atas klien kesehatan mental. Program di Filipina dibangun untuk memberikan
fasilitas pada pasien metal kronis dan raat jalan bagi pasien dengan gangguan
mental lainnya. Terdapat 2 pekerja social, 3 perawat, 1 psikiater, 1 tenaga
lapangan dan tenaga administrative dan petugas kebersihan. Program di India
memberikan fasilitas kepada pasien rawat inap bagi pasien psikiatri akut dan
kondisi mental serius dan pasien rawat jalan. Terdapat 2 psikiater, 1 psikolog
paruh waktu, 3 pekerja social, 10 relawan komunitas.
Gaji yang ditawarkan rendah,
terutama bagi pekerja di Nigeria dan India. Semua program berjalan di area
dengan level kemiskinan yang tinggi. Pelayanan kesehatan di Nigeria sangat
minim dan mereka mengalami kesulitan dalam transportasi karena luasnya area
cakupan kerja mereka.
2. Alur pelayanan dan karakteristik
klien
Program di Nigeria dan India secara aktif
mencari kasus yang ada di masyarakat. Dilatar belakangi alasan berdiri
masing-masing, kebanyakan klien menerima penanganan tentang epilepsy di Nigeria
dan kebanyakan klien di India menerima penanganan terhadap gangguan mental umum
dan hanya sepertiga yang menerima penanganan psikosis. Program di Filipina
tidak mencari klien, melainkan menerima rujukan dari pekerja kesehatan
pemerintah dan LSM setempat. Semua program melaksanakan aktivitas ke luar
organisasi seperti konsultasi dengan pemerintah, LSM, pemimpin komunitas dan
juga memberikan sosialisasi mengenai pelayanan yang diberikan. Ketiga program
juga mengajarkan warga, pihak pemerintah dan LSM serta guru untuk merujuk klien
kepada mereka.
3. Area Penanganan
Area penanganan di Nigeria dan Filipina sangat
luas, sedangkan India menangani area yang lebih kecil. Meskipun begitu,
didapatkan hasil bahwa ketiga program hanya mampu melayani sebagian kecil dari
klien potensial.
4. Akses terhadap pelayanan
Akses terhadap pelayanan tidak menjadi sebuah
permasalahan bagi klien di Nigeria dan India, karena seringkali mereka
memberikan pelayanan ke rumah. Akses di Filipina sedikit bermasalah dikarenakan
transportasi ke tempat pelayanan yang mahal. Sehingga banyak masyarakat yang
menghentikan kunjungan disaat tidak tersedianya lagi angkutan gratis ke tempat
pelayanan. Program di Nigeria melaksanakan program pencarian dana bagi
pengadaan obat sehingga harga obat dapat terjangkau, India menggratiskan obat
bagi klien sedangkan di Filipina harga obat lebih mahal.
5. Intervensi klinis
Perawat di India bertanggung jawab atas
diagnosis dan medikasi bagi semua klien kesehatan mental, sedangkan psikiater
di Filipina dan India menyediakan pelayanan klinis selama pasien rawat jalan
atau pada klinik komunitas. Pengadaan obat di Nigeria dan Filipina harus
bergantung pada obat-obatan yang lama dan lebih murah, hanya India yang mampu
menyediakan obat-obatan yang baru, bahkan terdapat pula obat antipical
antipsikotik dan anti depresan. Ketiga program tidak memiliki kecakapan dalam
menangani keadaan darurat pada komunitas, meskipun India adalah yang terbaik
disbanding ketiganya. Pekerja program di Nigeria dan India melakukan pengecekan
pada klien secara teraturm sedangkan program di Filipina hanya mengandalkan pekerja
kesehatan kota atau LSM.
6. Intervensi psikososial
Program di Filipina telah membentuk kelompok
dukungan di beberapa komunitas. Kegiatannya umumnya berupa psikoedukasi,
berbagi pengalaman dan berbagi kabar terbaru. Program di India menawarkan
intervensi psikososial yang paling luas. Setiap sesi pengecekan klien seringkali
termasuk ke dalam intervensi yang bertujuan meningkatkan kepedualian diri dan
fungsi social juga konseling. Program di Nigeria baru memulai kelompok dukungan
di 3 daerah.
7. Alur rujukan
Ketiadaan pelayanan psikiatri di Nigeria
membuat timbulnya kesulitan untuk merujuk ke spesialis. Program di Filipina
belum memulai memialur rujukan ke spesialis atau rumah sakit terdekat. Lain
lagi di India, dikarenakan basis pelayanan program di India ada di rumah sakit,
maka alur rujukan dapat berlangsung dengan rutin.
8. Hasil
Walaupun data tersedia, tetapi semua program
tidak terorganisasi dengan baik. Oleh karena itu data mengenai jumlah klien,
karakteristik sosiodemografis, penanganan yang diberikan, lama waktu yang
digunakan untuk penanganan, konsistensi klien, begitu juga dengan data tentang
hasil intervensi tidak dapat diakses. Meskipun begitu, semenjak 2009 program di
India telah memulai monitoring dalam pelayanan, fungsi, hasil pelayanan dan
kepuasan klien. Program di Nigeria pun mulai membuat system pengumpulan data.
D. Diskusi
Dalam
pelaksanaan studi ini, terdapat 2 tantangan umum yang terjadi yaitu tanpa
adanya CBM sebagai penyuntik dana, maka keberlangsungan program ini akan
menjadi sebuah tanda tanya besar, yang kedua yaitu minimnya sumber daya manusia
yang bekerja dalam ketiga program di ketiga Negara. Contohnya di Nigeria tidak
ada psikiater sehingga perawat yang harus menangani semua permasalahan
psikiatri, di awal program berdiri Filipina tidak memiliki psikiater sedangkan
India lebih sukses dalam merekrut berbagai sumber daya berkualitas. Kelemahan
paling krusial adalah kurangnya dukungan spesialis di masing-masing Negara pada
program. Seperti staf klinis yang minim dalam menangani banyaknya pasien rawat
jalan di Filipina dan terisolasinya lokasi sehingga susah untuk mengembangkan
program komunitas.
Kekuatan
program ini adalah disamping tetap berlangsungnya berbagai hambatan, semua
program masih tetap mampu untuk terus beroperasi dan berfungsi untuk memberikan
pelayanan. Hal ini terjadi tidak lain karena kerja dari para pekerja lapangan
di masing-masing program yang masih tetap mau bekerja walaupun dibayar rendah
dan harus menghadapi tekanan fisik dan emosional bertubi-tubi.
Terdapat 3
model yang teridentifikasi dalam 3 program di 3 negara yaitu model pelayanan
berdasarkan komunitas yang eksklusif di Nigeria, model pelayanan individu yang
berdasarkan pelayanan klinis tetapi dengan beberapa aktivitas di komunitas
Filipina dan model yang meneydiakan pelayanan komunitas, klinis dan rumah sakit
di India.
Kekuatan
penggunaan metode kualitatif adalah didapatkannya data detail mengenai
deskripsi model pelayanan dan bagaimana mereka berfungsi didalam konteks
sosiobudaya dan sosioekonomi. Kelemahannya adalah kebanyakan data didapatkan
dari kunjungan singkat, apabila kunjungan dilakukan lebih lama maka akan lebih
didapatkan data yang lebih komprehensif; dengan disewanya pengamat independen
maka biaya yang dikeluarkan lebih besar; dibutuhkan penelitian yang lebih focus
untuk mengukur aspek tertentu pada masing-masing program, seperti pengukuran
kepuasan klien dan pengukuran efek program kelompok dukungan di komunitas;
kurangnya data adalah keterbatasan yang paling besar. Hal ini menyebabkan
peneliti tidak mampu mengevaluasi keefektifan intervensi.
E. Kesimpulan
Penelitian
ini memberikan gambaran yang cukup banyak mengenai model pelayanan kesehatan
mental komunitas di 3 negara dengan pendapatan rendah. Peneliti memberikan alur
penulisan yang baik mengenai awal terbentuknya program sampai pada pemaparan
detail mengenai jumlah sumber daya manusia yang dimiliki masing-masing program,
berikut dengan aktivitas dan sistem pelayanan serta tantangan dan keunggulan
masing-masing program.
Sebagai
pendatang baru dalam pelayanan kesehatan mental komunitas, saya merasa bahwa
informasi yang telah diberikan jurnal ini cukup lengkap dan sistematis. Tidak
ada salahnya apabila Indonesia, sebagai Negara berkembang mencoba mengevaluasi
sistem pelayanan kesehatan komunitas (berhubung masih terbatasnya jumlah
pelayanan kesehatan mental komunitas) yang ada sehingga kita memiliki gambaran
utuh mengenai bagaimana pelayanan kesehatan
komunitas berjalan di Indonesia. Penelitian ini pun dapat menjadi satu
titik awal bagi pencanangan berdiri dan berkembangnya pelayanan kesehatan
mental komunitas di Indonesia. Dengan adanya berbagai indikator dan topik
narasi di penelitian ini, kita dapat menilai hal apa yang perlu dipersiapkan
unuk mendirikan satu pelayanan kesehatan mental komunitas.
Hal yang
perlu ditiru adalah terintegrasinya pelayanan kesehatan mental dengan rumah
sakit atau klinik, yang dapat menjadi satu langkah awal. Dengan terintegrasinya
pelayanan kesehatan mental dengan rumah sakit, maka akses masyarakat dan
perujukan dapat dilakukan dengan mudah. Walaupun, kedepannya pemikiran untuk
memperpanjang pelayanan untuk mendekati masyarakat haruslah dirintis sejak
awal.






0 komentar:
Posting Komentar